|
Arif Satria
Negeri Bahari yang Melupakan Nelayan
Senin 09/06/2008:
Ada pertanyaan, ”Apakah karena menjadi nelayan lalu miskin ataukah
karena miskin lalu menjadi nelayan?” Apa pun jawabannya, yang jelas saat
ini belum diketahui secara pasti berapa jumlah nelayan yang miskin, dari
total jumlah 2 juta nelayan.
Data yang ada hanya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir tahun 2002
sebanyak 32 persen. Ini pun indikatornya pendapatan 1 dollar AS per hari.
Bayangkan bila indikatornya 2 dollar AS per hari, jumlah yang miskin
tentu lebih dari itu. Belum lagi dampak kenaikan harga bahan bakar
minyak (BBM) tahun 2005 dan 2008 yang akumulatifnya bisa mencapai 150
persen.
Lalu, bagaimana prospek nelayan di tengah situasi seperti ini?
Saat ini armada perikanan tangkap didominasi armada tradisional, perahu
tanpa motor (50,1 persen), motor tempel (26,2 persen), dan kapal motor
kurang dari 5 gross ton (GT) sebanyak 16,4 persen, jadi totalnya 92,7
persen.
Jumlah armada itu tidak otomatis menggambarkan jumlah nelayan karena
setiap kategori armada terdiri dari jumlah nelayan yang berbeda.
Diperkirakan jumlah nelayan di bawah 5 GT sebanyak 1,3 juta jiwa atau
66,8 persen. Sulit mengatakan nelayan di bawah 5 GT pasti miskin atau di
atas 5 GT pasti tidak miskin. Nelayan perahu tempel yang menangkap ikan
kerapu hasilnya relatif lebih baik dari seorang ABK biasa yang ikut di
kapal 50-100 GT selama 40 hari. Jadi, alat tangkap belum bisa jadi
indikator kemiskinan.
Ketiadaan data kemiskinan nelayan mempersulit pertanggungjawaban
pemerintah terhadap publik. Tanpa adanya instrumen pengukuran kemiskinan
nelayan secara reguler, maka sulit pula mengukur keberhasilan program
pembangunan perikanan yang katanya pro-poor.
Sulit pula membaca dampak perubahan ekonomi makro terhadap nelayan.
Seperti, tak adanya data nilai tukar nelayan (NTN) pascakenaikan harga
BBM. Bagaimana kita merumuskan program kompensasi BBM bila data yang
reliable tentang dampak kenaikan itu tidak ada. Kiranya, statistik pun
belum berpihak ke nelayan.
Lalu, apa yang perlu diperhatikan untuk mengatasi kemiskinan nelayan?
Pertama, aspek permodalan. Pemerintah mengklaim kredit usaha rakyat (KUR)
adalah obat mujarab untuk kemiskinan. Padahal, kalau dicermati, sistem
KUR justru menjauhkan akses nelayan dan masyarakat pesisir terhadap
permodalan.
Tidak semua bank pelaksana berada di sentra nelayan di wilayah pesisir
sehingga nelayan harus ke ”kota” untuk mengakses kredit tersebut.
Padahal, sebelumnya nelayan bisa menikmati kredit dari lembaga keuangan
mikro (LKM) di sentra nelayan, yang dananya dari pemerintah.
Dengan lahirnya KUR, dana penjaminan pemerintah yang semula dititipkan
di bank pelaksana untuk disalurkan ke LKM pesisir otomatis dihentikan.
Padahal, saat ini ada 255 LKM pesisir hasil program pemerintah dengan
total dana Rp 558 miliar.
Sayang kalau investasi sosial- ekonomi terhadap LKM yang mahal itu kini
sedikit pun tak dipertimbangkan. Dibutuhkan terobosan mengawinkan KUR
dan LKM pesisir. Hal yang harus diantisipasi dengan pengawinan ini
adalah akan makin tingginya bunga pinjaman.
Bila bunga KUR 14 persen, maka bila disalurkan melalui LKM, bunga yang
diterima nelayan bisa 20-25 persen, dengan asumsi LKM butuh 3-5 persen
untuk overhead cost dan keuntungan 3-5 persen.
Untuk itu, perlu dicarikan formula agar bunga yang sampai ke nelayan
bisa sama dengan KUR, yakni 15 persen. LKM telah terbukti efektif
membantu nelayan karena LKM bisa menyesuaikan dengan pola kerja nelayan.
Ada sebuah LKM di Kaltim yang kredit bermasalahnya (non-performing loan/NPL)
nelayannya di bawah 5 persen. Ini bisa terjadi karena LKM menggunakan
sistem ”jemput bola” harian dengan menempatkan petugasnya di pendaratan
ikan pada malam hari atau subuh.
Cicilan harian sangat meringankan nelayan kecil yang melautnya harian.
Hal ini sulit dilakukan bank konvensional.
Kedua, diversifikasi teknologi dan usaha. Nelayan jatuh miskin karena
sering kali gagal mengadaptasi variasi musim ikan akibat terbatasnya
jenis alat tangkap.
Di Pasuruan, musim teri-nasi adalah Desember-April. Tapi, setelah April,
mereka butuh alat tangkap lain supaya bisa menangkap ikan selain teri.
Keterbatasan modal membuat nelayan hanya punya satu alat tangkap
sehingga kepastian hidupnya hanya saat musim teri. Diversifikasi
teknologi penangkapan mutlak dilakukan.
Sementara itu, dengan naiknya harga BBM, mestinya nelayan mulai
memikirkan diversifikasi ke budidaya yang hemat BBM. Dan, bila nelayan
pindah ke budidaya, bantuan modal mestinya tak hanya modal investasi dan
modal kerja, tetapi juga bantuan biaya hidup sehari-hari selama satu
musim.
Ketiga, terpenuhinya kebutuhan energi untuk perikanan untuk mengatasi
krisis BBM. Saat ini baru ada 225 unit SPDN (Solar Packed Dealer untuk
Nelayan) yang kapasitasnya hanya 20 persen, dari kebutuhan 600 unit.
Birokrasi Pertamina yang rumit jadi pangkal persoalan, selain
terbatasnya modal koperasi nelayan serta lokasi yang terpencil.
Kelangkaan BBM untuk nelayan membuat harga BBM berlipat. Ini membuat
nelayan tak berdaya karena harga ikan hasil tangkapannya tak bisa
mengimbangi harga BBM.
Bukti-bukti di atas menunjukkan, nelayan masih belum dianggap pilar
penting bangsa bahari sehingga terus dibiarkan bergelut dengan
kemiskinannya. Atau, jangan-jangan kita sudah lupa bahwa kita bangsa
bahari? (Arif Satria Direktur Riset dan Kajian Strategis IPB Bogor,
Kompas,
Senin, 9 Juni 2008)
►bmi
|